News



Anderson King Junior, Dari Melbourne Jadi Dosen STMIK IBBI


Lahir di medan 15 Februari 1981, Anderson King Junior akrab disapa AAKJ merupakan anak pertama dari pasangan A King Junior (ayah) dan ham Tjing Tju (ibu) yang bekerja sebagai wiraswasta.

Alumni SMA Sutomo 1 Medan ini lulus dari Daekin University di Melbourne, Australia pada 2006 silam. Kembali ke tanah air di usai menyelesaikan studi, AKJ menekuni bidang bisnis dengan menjadi wiraswasta. Pengalaman mengajar di dunia pendidikan dijalani AKJ setelah tamat SMA dan melanjutkan pendidikan  ke jenjang Diploma I dan tamat di tahun 2000, “Di jaman saya itu masih ada Diploma I Jurusan Komputer Sains yang dulu bernama IBSU dan sekarang telah berubah nama menjadi STIE Indonesia,” kenangnya.

Pada saat yang bersamaan, mantan Dosen yang dulu mengajari AKJ pada bangku perkuliahan tepatnya di IBSU, Menawarkan kepada AKJ untuk Mencoba mengajar yang pada waktu itu pada posisi Asisten Dosen (asdos) di institute yang sama, dan setelah tiga bulan berlalu AKJ pun diangkat menjadi Dosen tetap matakuliah Teknik Informatika. Seiring dengan hal tersebut AKJ pun berteman baik dengan para dosen yang sekarang mengajar di IBBI seperti Sukiman, Tanda Slamat, Hendra Suarno dan beberapa dosen yang lainnya yang tidak mengajar di IBBI lagi. Hal tersebut menjadi momentum awal perkenalan AKJ di dunia Pendidikan.

Hal yang memotivasi AKJ terjun mengajar di dunia pendidikan adalah pada saat anak didiknya atau mahasiswa mengerti apa yang di ajarkan olehnya, “Ada kepuasan batin kalau anak didik saya itu mengerti apa yang saya ajarkan, itu menjadi kepuasan sendiri bagi saya. Bukan masalah mereka pintar akan tetapi mau mendengar, itulah yang membuat motivasi saya untuk tetap  mengajar walaupun disela-sela waktu saya ada kesibukan yang lain,” ujarnya.

Disiplin dan bertanggung jawab merupakan langkah yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk menjadi yang lebih baik lagi.  “Dua kunci utama dari kacamata saya yang harus dipegang teguh oleh seorang mahasiswa adalah disiplin dan bertanggung jawab dalam melakukan setiap kewajiban yang sedang diemban.” Ia sangat mengharapkan hal tersebut betul-betul diterapkan oleh mahasiswa dalam mengemban kewajiban sebagai mahasiswa sehingga tanpa disadari hal tersebut menjadi kebiasaan yang baik kepada mahasiswa baik dan membentuk kepribadian yang lebih baik lagi dalam hal disiplin dan rasa tangung jawab baik di lingkup kampus maupun dalam keluarga.

“Ada yang bertanya kenapa saya galak terhadap mahasiswa? Ada beberapa alasan mengapa  saya menerapkan  hal seperti itu, bukan karena seenak saya memarahi mahasiswa tapi dikarenakan saya merasa selain pendidik saya juga adalah seorang pengajar yang mempunyai tanggung jawab lebih Jelasnya. Kemudian kenapa saya harus keras terhadap mahasiswa ? saya menegaskan justru karena dia seorang mahasiswa, seharusnya mereka mempunyai kesadaran sendiri terhadap kewajibannya. Saya menginginkan mahasiswa yang saya didik kelak dipandang orang beretika, dapat mengormati orang dan mempnyai batasan kapan boleh bicara dan kapan untuk mendengarkan.

AKJ juga mengilustrasikan bahwa anak-anak dijaman Modernisasi ini dikhawatirkan tidak memiliki moral, sosialisai antar sesama, Interaksi antar manusia semakin sedikit disebabkan terlalu banyak gangguan. Oleh karena itu dengan diterapkan sistem disiplin dan tanggung jawab menjadi prioritas utama terhadap mahasiswa sehingga  generasi muda mempunyai karakter disiplin dan tangung jawab itulah alasan mengapa saya galak dibanding dosen yang lain yang ada di IBBI.

Apresiasi yang pernah muncul dari mahasiswa pada saat mahasiswa wisuda, ketika mahasiswa menyebut nama-nama dosen yang berpengaruh dalam proses mengajar selama di IBBI termasuk nama AKJ yang pada saat itu merasa tidak menyangka akan mendapatan nominasi seperti itu dikarenakan dosen yang biasa dikenal dosen galak ternyata membawakan sebuah pola pikir yang baru terhadap mahasiswa dari perlakuan AKJ yang didapat selama mengikuti kuliah di IBBI . Ia juga menambahkan bahwa menjadi seorang pendidik rasa tangggung jawabnya tidak hanya berpaku pada program kampus tetapi lebih bisa bertanggung jawab terhdap orangtua. Tips yang paling terakhir sekali yang disampaikan oleh AKJ bahwa ketika seseorang yang dikatakan dewasa bukan diukur dari segi umur, menjadi dewasa itu diukur dari kesadaran tentang tangung jawab di masa depan, tutupnya.



« Back to News