News



Ketua STMIK IBBI: Hindari Penggunaan Listrik Berlebih


Banyaknya gedung dan rumah yang terbakar di Kota Medan akibat arus pendek listrik harus menjadi perhatian semua kalangan. Kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana.

Menurut Ketua Komite Nasional Keselamatan untuk Instalasi Listrik (Konsuil) Wilayah Sumatera Utara yang juga Ketua STMIK IBBI B Ricson Simarmata, mengingatkan masyarakat agar menghindari penggunaan listrik secara berlebihan serta menghindari pemasangan listrik yang tidak memenuhi standar keselamatan.

“Prinsip kelistrikan agar tidak sampai membahayakan adalah lebih baik mencegah daripada mengobati, artinya lebih baik antisipasi lebih awal daripada berisiko di kemudian hari,” terangnya seperti dilansir dari prime-news.co.

Ricson menegaskan  awal dari malapetaka kebakaran gedung adalah penataan jaringan listrik yang tidak sesuai standar keselamatan. Biasanya, kesemrawutan penggunaan kabel listrik terjadi setelah gedung beroperasi di atas lima tahun. Setiap kali ada renovasi kios maupun rumah, pemilik tidak pernah berkonsultasi terlebih dahulu terkait instalasi listrik.

“Dari hasil amatan Konsuil, penyebab kebakaran pada umumnya tidak terlepas dari kondisi buruk pada instalasi listrik di rumah atau bangunan,” ungkap Ricson. Ia mencontohkan munculnya pemanasan pada kabel karena beban puncak atau arus pendek yang bisa berujung pada kerusakan insulasi kabel.

Ayah tiga anak ini menyampaikan, jika ingin mengaudit instalasi listrik harus pada instalatir resmi yang memiliki sertifikat laik operasi (SLO). Pemilik bangunan gedung, baik pemerintah, swasta, industri, perhotelan, plaza, perbankan, atau rumah dan toko (ruko) harus memastikan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen.

“Proses memasang, mengubah, menambah, dan merehabilitasi instalasi listrik yang dikerjakan pihak tidak berwenang atau bukan ahlinya tidak dibenarkan. Proses itu harus dikerjakan oleh intalatir resmi yang mengerti tentang standar persyaratan umum instalasi listrik (PUIL) 2000,” pungkasnya.

Undang-undang nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang menyebutkan setiap orang mengoperasikan instalasi tenaga listrik tanpa SLO dapat dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.



« Back to News